Selasa, 24 April 2018

CERPEN: TUKANG SAYUR ITU BERNAMA PLONK


CERPEN
TUKANG SAYUR ITU BERNAMA PLONK

Namaku Komarudin Pelang. Akan tetapi, biasanya saya dipanggil Plonk. Saya dulunya adalah pembalap, akan tetapi sekarang saya menjadi drifter dan mentor di MGKP Garage. Inilah kisah saya.

Saya dilahirkan di tahun 1980-an, dari keluarga yang kurang mampu. Ayah saya bekerja sebagai tukang sayur. Ibu saya, kalau dibilang juga berjualan sayur dengan Ayah saya. Semua terlihat biasa-biasa saja, sampai…


Ayah saya menyuruh saya untuk membawa sayur tersebut, dengan mobil. Dan umur saya masih 12 tahun pada saat itu, ya paling tidak tahun 1995…  Tentu saja, reaksi pertama orang-orang, jika dibilang sangatlah buruk. Ayah saya dicemooh, karena mana ada di saat itu ada anak-anak menyetir mobil? Tetapi saya tetap menikmatinya.

Umur 17, saya mendapatkan SIM, dan berkeinginan untuk membeli mobil. Akan tetapi, karena keluarga saya kurang mampu… saya tahan dulu keinginan untuk membeli mobil, dan mulai menggunakan pikap sayur tersebut.

Jika saya gambarkan, pikap sayur tersebut terlihat tidak terlalu mencolok, bahkan biasa-biasa saja. Tetapi, karena ukurannya yang kecil, pikap ini bisa berlari kencang.

Walhasil, di daerah sekitar tempat tinggal saya, mulailah saya mengikuti balapan liar. Dan reaksinya? Tentu saja, banyak orang menertawakan saya karena mobil pikap sayur tersebut.

Tetapi, saya tidak menyerah. Dan banyak orang yang tertipu oleh penampilan mobil pikap sayur saya. Saya mampu mengalahkan beberapa mobil yang terlihat lebih bagus dan lebih kencang dari mobil saya. Walhasil, banyak orang menyebut saya “Shock Therapy”. Saya membalap selama 5 tahun, sampai suatu ketika… Di saat balapan akan berlangsung (tahun 2005, umur saya pada saat itu adalah 22), tiba-tiba polisi datang, dan tentu saja saya tertangkap, karena shok duluan…

Saya ditangkap dan didenda, yang dendanya tersebut sangatlah besar, bahkan pihak keluarga pun tidak bisa membayarnya!

Beruntung, saya dipertemukan dengan Tuan Ariadi, pereli terkenal yang kebetulan juga mendengar kabar tentang saya. Saya masih mengingat dialognya, ini saya putarkan…

Ariadi  : “Bagaimana kabarnya?”
Plonk   : “Kacau sekali pak. Oh tunggu sebentar.”
Ariadi  : “Ada apa?”
Plonk   : “Bapak Tuan Ariadi kan?”
Ariadi  : “Kok tahu saja sih nama saya?”
Plonk   : “TV Pak, Masa gak tau sih, bapak kan pereli yang terkenal itu, yang menyabet 20 medali emas lebih, bahkan bapak sendiri juga sempat direkrut oleh Tim Reli Internasional!”
Ariadi  : “Nah benar sekali!”

Melihat potensi saya, pada akhirnya di tahun 2006 saya pun direkrut oleh pak Ariadi di JRT (Jusuf Racing Team, Jusuf itu nama depannya Ariadi) dan menjadi pereli handal yang terkenal secara internasional. Dengan ini, saya mampu mengangkat derajat keluarga, dan saya pun dikenal sebagai “Tukang sayur jadi Pereli”.

Hidup saya berubah secara drastis. Saya menikahi wanita yang juga menyukai otomotif, yang masih menemani saya sampai sekarang. Keluarga saya pun juga menjadi lebih baik, yang dahulu kerja sebagai tukang sayur, sekarang sudah menjadi pengusaha. Dan juga saya berterimakasih pada Tuhan YME, oleh karenanya saya sekeluarga bisa menjadi begini.

Saya menjadi pereli selama 6 tahun (sekitar 2012), dan setelah itu tidak lagi. Kenapa demikian? Pak Ariadi meninggal dunia dalam kecelakaan tunggal. Saya pun sangat sedih dan shok atas kehilangannya. Sepeninggal Pak Ariadi, JRT pun harus menjual asetnya karena tuntutan ekonomi yang berat dan manajemennya tidak sanggup.

Bayangkan saja. Orang yang telah membantumu mengatasi kesulitan, menemani hidupmu, dan memperbaikinya, telah pergi begitu saja. Tetapi, saya tidak boleh menyerah.

Saya pertama mencoba mencari, dan mempelajari jenis-jenis balapan mobil, ada Drift, Drag, Time Attack, Rally, Touring Car, Slalom, dan Gymkhana. Saya pun memutuskan memilih drift, karena lebih menarik dibandingkan reli. Di saat senggang ini lah saya menjadi tuner ternama di sebuah bengkel.

Saya pun mencoba bergabung dengan tim-tim drift, akan tetapi, hampir semua menolak saya, karena berbagai alasan. Penuh lah, tidak ada resource lah, tidak ada mobil lah, dan lain sebagainya.

Dan pada akhirnya, saya bertemu lagi dengan Arianto, anaknya Ariadi. Saya dan Arianto membuat kesepakatan mengenai tim Drift baru yang dinamakan MGKP. MGKP sendiri berasal dari nama 
depannya Ariadi (Muhammad Guntur) dan KP sendiri berasal dari nama saya, Komaruddin Pelang. 
Bersama beberapa karyawan eks JRT, kita pun merintis kembali bengkel dan workshop yang dulunya ramai sekali.

Merinitis kembali usaha bengkel ini, tidaklah mudah. Kita harus melakukan buyback aset-aset yang telah kita jual sebelumnya (bahkan beberapa mobil koleksi MG Ariadi harus dijual!), dan merenovasi tempat bengkel tersebut.

Dan satu lagi. Mobilnya. Di saat bengkel itu berdiri lagi, kita hanya punya 5 mobil saja. Dan tiba-tiba saja saya teringat mobil pikap sayur yang sudah tidak dipakai lagi semenjak menjadi wirausahawan, mengapa kita tidak jadikan mobil drift saja?

Proses perombakan mobil pikap sayur ini memakan waktu yang agak lama. Terlebih untuk mesinnya sendiri harus diistirahatkan karena tidak akan kuat. Dilakukanlah proses penggantian mesin menjadi mesin 4G63, dikarenakan mesin ini memiliki potensi yang tinggi, dan mesin ini tidak dijual disaat aset yang lain dijual.

Pada akhirnya, kita mampu bangkit lagi setelah 2 tahun terlibat masalah dan kesulitan yang ada. Sekarang, MGKP Garage memiliki banyak karyawan dan bangkit menjadi team drifter Indonesia ternama.

Cerita ini hanya fiktif belaka. Kesamaan, entah itu plot, nama karakter, dan lainnya, dianggap sebagai ketidaksengajaan semata!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar